Berita

Jack Ma, Pendiri Alibaba Group, From Hero to Zero? – Tionghoapos


Artikel kali ini mimin ambil dari tulisan pak Dahlan Iskan, lewat artikelnya yang berjudul “Jack Ma“. Sepintas dari judulnya, terlihat tidak menarik, hanya 2 kata saja. Tapi setelah membaca isinya, ah, cobalah pembaca baca sendiri …

Jack Ma ditahan? “Saya rasa tidak,” ujar teman saya di Tiongkok tadi malam. Tapi dia tidak tahu di mana Jack Ma. Seperti hilang ditelan bumi.

Memang Jack Ma, pemilik kekaisaran bisnis Alibaba itu, tidak pernah muncul lagi di publik sejak Oktober lalu. Tidak ada yang tahu dimana dia. Juga karena apa menghilangnya.

Saking misteriusnya keberadaan Jack Ma itu, sampai2 beredar rumor bahwa dia lagi ditahan. Untuk menyelesaikan persoalan perusahaannya, yang dianggap bermasalah oleh pemerintah.

Mungkin saja Jack Ma memang tidak ditahan. Mungkin saja dia lagi menahan diri. Istilahnya : lagi tiarap. Agar tidak lebih heboh. Yang hanya akan semakin menyulitkan dirinya.

Banyak sekali pengusaha yang memilih sikap ”tiarap” seperti itu di Tiongkok (Juga di Indonesia?). Sambil mencari penyelesaian terbaik bagi mereka.

Baca juga : 3 Dekade yang Lalu Orang Ini Bantu Jack Ma Dengan 2 Juta Rupiah; Setelah Sukses Jack Ma Balas Budi Senilai 20 Miliar!

Misalnya kasus Fan Bingbing (39). Artis yang terkenal karena kecantikannya dan kekayaannya. Fan Bingbing tiba2 menghilang dari peredaran sampai 6 bulan.

Ternyata Fan Bingbing memang ”ditahan”. Dia dianggap melakukan menggelapkan pajak, yang besarnya sampai sekitar Rp 2,5 triliun (versi wikipedia : CN¥883 juta, atau US$127.4 juta, atau sekitar 1,8 triliun) .

Caranya? Fan Bingbing punya 2 jenis kontrak. Baik sebagai bintang film, bintang TV, model, maupun sebagai penyanyi.

Ada kontrak yang sesungguhnya, sesuai dengan tarifnya, dan ada kontrak yang pura-pura, dimana yang dilaporkan ke petugas pajak nilainya jauh lebih kecil. Termasuk ketika Fan Bingbing main film di Hongkongwood dan Hollywood.

Akhirnya Fan Bingbing dilepas. Menjadi orang bebas lagi. Tentu dia harus membayar kekurangan pajak yang sekitar Rp 2,5 triliun itu. Betapa kaya artis Fan Bingbing ini. Tapi dia memilih menyelamatkan masa depan dengan cara menyelesaikan pajaknya.

Fan Bingbing sulit mengelak dari tuduhan itu. Yang melaporkannya ke pihak berwajib adalah tokoh selebriti terkenal juga, Cui Yongyuan (57), produser acara2 TV terkemuka. Termasuk acara yang melibatkan Fan Bingbing sebagai artisnya.

Jack Ma bersama Jokowi sewaktu Asian Games 2018

Baca juga : Inilah 6 Pelajaran Dari Jack Ma, Yang Saat Ini Lagi Usaha Sendiri Baca Nomor 5!

Sebagai info, pada Juni 2018, pembawa acara TV, Cui Yongyuan, menggunakan platform media sosial untuk membocorkan kontrak yang disunting, yang mengungkapkan bahwa Fan Bingbing dibayar CN¥ 10 juta untuk 4 hari kerjanya pada film Feng Xiaogang “Cell Phone 2” (yang akan datang).

Keesokan harinya, Cui memposting kontrak ke-2 yang menunjukkan angka CN¥ 50 juta untuk pekerjaan yang sama, dimana kontrak yang lebih kecil dimaksudkan untuk melapor ke otoritas pajak, untuk menghindari pajak atas kompensasi penuh sebesar CN¥ 60 juta (dianggap sebagai yin-yang contracts).

Pengungkapan ini mendorong otoritas pajak Provinsi Jiangsu dan Kota Wuxi untuk menyelidiki kasus dugaan penggelapan pajak. Studio Fan kemudian mengeluarkan pernyataan yang menyangkal bahwa dia pernah menandatangani kontrak terpisah untuk 1 pekerjaan. Mereka mengklaim bahwa akan bekerja sama sepenuhnya dengan otoritas terkait dalam penyelidikan, dan akan menangani masalah publik.

Fan kemudian dianggap “hilang” karena penampilan publik terakhirnya pada 1 Juli 2018, dan kurangnya aktivitas di media sosial setelah 23 Juli 2018. Rumor mengatakan bahwa Fan telah ditangkap, tetapi tidak ada konfirmasi atau pernyataan resmi. Kemudian pada bulan Agustus 2018, manajer Fan, Jersey Chong, telah mengonfirmasi melalui media sosial bahwa Fan tidak pernah ditangkap.

Fan kemudian memecah keheningan pada 3 Oktober 2018, dengan meminta maaf kepada publik atas penggelapan pajak yang dilakukannya, setelah pihak berwenang Tiongkok memerintahkan dia dan perusahaannya untuk membayar pajak dan denda sebesar CN¥ 883 juta (US$ 127,4 juta) untuk menghindari tuntutan pidana (penjara).

Baca juga : Inilah Pesan Bos Alibaba, Jack Ma Untuk Anak2 Muda Berusia 20-an Tahun

Fan Bingbing akhirnya mengaku bersalah. Sekarang dia sudah kembali menjadi mesin uang lagi, dengan mulai membintangi beberapa film dan seri tv.

Tapi, siapa yang rela kehilangan uang Rp 2,5 triliun seperti Fan Bingbing? Hanya gara2 laporan sejawatnya.

Ada juga pengusaha yang ngotot merasa tidak bersalah. Bahkan berusaha melawan, seperti yang terjadi di kota Ningbo. Akhirnya pengusaha ini diajukan ke pengadilan, lalu divonis mati. Uang yang dipermainkan memang terlalu besar, setara dengan yang terjadi di Jiwasraya.

Kejadian di Ningbo itu juga di bidang asuransi, yang bisnisnya berkembang ke berbagai sektor bisnis. Terlalu banyak uang yang mengalir ke mana2. Termasuk uang dari bank pemerintah dan uang masyarakat. Tidak seperti Fan Bingbing, dia memilih mati.

Ada juga pengusaha besar yang mencoba melarikan diri dengan bersembunyi di Hongkong. 2 tahun kemudian, ketika dia sudah merasa situasinya aman, petugas mengintainya. Waktu itu, dia sedang merayakan Imlek di rumahnya di Hongkong.

Petugas dari Tiongkok pun diam2 menangkapnya, lalu dibawa ke daratan Tiongkok.

Semula, pihak berwenang di Hongkong seperti merasa tersinggung. Kok ditangkap sendiri? Kok tidak minta bantuan ke pihak kepolisian Hongkong? Itu dianggap seperti melanggar kedaulatan Hongkong sebagai daerah otonomi khusus.

Tapi rasanya Beijing sudah memberi tahu Hongkong. Hanya saja, kelihatannya ada TST (tahu sama tahu, atau perjanjian bawah tangan). Beijing tampaknya tidak mau mengikuti prosedur yang terlalu berbelit2 seperti Hongkong, yang untuk menangkap orang harus lewat putusan pengadilan. Lalu yang ditangkap itu bisa bebas dengan cara membayar uang jaminan.

Akhirnya pengusaha itu diadili di Guangzhou. Lalu dijatuhi hukuman mati.

Ada juga yang melarikan diri. Lalu menyerah, mengaku bersalah, kemudian menyelesaikan persoalannya. Dia diadili dengan hukuman penjara 6 tahun.

Ant group yang didirikan oleh Jack Ma

Baca juga : Ketika Kamu Sedang “Tidak Mempunyai Uang”, Ingatlah 6 Kalimat Jack Ma Ini

Yang paling fenomenal adalah konglomerat yang lari ke Amerika Serikat itu, Guo Wen Gui. Yang proyek infrastruktur terkait sarana Olimpiade Beijingnya luar biasa banyak. Wen Gui mendapat banyak proyek pemerintah. Dia lalu jadi konglomerat besar.

Ketika akan diusut, dia lari. Sudah sangat banyak uangnya yang ditempatkan di luar negeri.

Di Amerika, Wen Gui memilih menjadi musuh Negara. Dia kemudian bergabung dengan aktivis anti Tiongkok. Dia melakukan perlawanan tiada henti, termasuk membangun perusahaan media khusus untuk memproduksi berita2 yang memojokkan Tiongkok.

Bahkan Wen Gui bergabung ke jajaran petinggi Presiden Donald Trump, seperti Steve Banon, yang dikenal sebagai anti Tiongkok sampai ke tulang sumsumnya.

Wen Gui kini menjadi buron No.1 Tiongkok. Berbagai usaha untuk menangkapnya masih gagal. Baik lewat jalur resmi, maupun jalur mirip Hongkong.

Ada juga konglomerat yang lebih besar dari Wen Gui, yang juga bermasalah. Tapi yang satu ini terlalu besar. Dia memiliki perusahaan penerbangan raksasa, Hainan Airlines. Posisinya di jaringan politik juga sangat luas.

Dia meninggal di Prancis 2 tahun lalu. Dia terjatuh ke jurang ketika sedang rekreasi di sana. Dia luar biasa kaya, tapi tidak punya istri, tidak punya anak (angkat). Namanya pembaca pasti sudah tahu, Wang Jian. Kelahiran Tianjin.

Terlalu banyak contoh berbagai model penyelesaian masalah di kalangan bisnisman Tiongkok. Yang semua contoh di atas sudah pernah saya tulis di Disway.

Baca juga : Kisah Jack Ma, Orang Terkaya Kedua di Tiongkok Pemilik Alibaba

Lalu cara manakah yang akan dipilih Jack Ma?

Cara Fan Bingbing? Cara Guo Wen Gui? Atau cara lain lagi model Jack Ma sendiri?

Saya jadi ingat nasehat paling berharga dari Jack Ma. Di awal pandemi ini. Yang menandakan betapa bahaya pandemi kali ini. Anak atau cucu kita yang baru akan lahir 3 tahun lagi tidak akan bisa bercerita tentang hebatnya pandemi ini.

Begitu gawatnya pandemi ini, sampai2 Jack Ma mengeluarkan fatwa seperti berikut ini: “Jangan mikir ekspansi. Bisa bertahan saja sudah harus dianggap sukses.”

Demikian juga secara pribadi : jangan terlalu banyak punya kemauan. Bisa menjaga badan tetap sehat saja sudah harus merasa sukses.

Saya merasa mendapat teguran oleh fatwa Jack Ma itu. Saya mendirikan Harian Disway justru di tengah2 situasi pandemi.

Ternyata Jack Ma juga melanggar fatwanya sendiri. Dia ternyata merencanakan ekspansi yang justru terbesar dalam sejarah hidupnya. Bahkan terbesar untuk sejarah bisnis dunia! Dia mendirikan Ant Group (蚂蚁集团; Mayi jituan).

Arti nama grup itu memang sangat rendah hati : Grup Semut. Bukan grup Gajah, atau grup Naga. Tapi skala ekspansinya melebihi seluruh gajah bengkak yang paling bengkak sekali pun: USD 300 miliar dolar!

Betapa ambisiusnya Jack Ma. Dia menggabungkan semua lini bisnis dalam 1 perusahaan. Di Ant Group itu, bahkan dalam praktiknya semua lini bisnis itu (dapat) dia kendalikan hanya dalam 1 handphone yang kecil. Mulai dari bisnis bank, asuransi, penjaminan, underwriter, jasa notaris, jasa hukum, jasa logistik, jasa transfer, jasa audit, dsb.

Semua jenis bisnis dia kuasai lewat satu genggaman.

Hebohnya ga ketulungan di seluruh dunia. Bagaimana bisa Jack Ma melakukan ekspansi terbesar dalam sejarah manusia?

Jack Ma, orangnya begitu kecil. Tapi pikiran dan langkahnya begitu besar.

Baca juga : Li Ka-shing Pensiun, Akhir Era Gengster di Hongkong

Hanya 2 hari sebelum mendapatkan uang segitu banyak, dia lemas. Izinnya tidak keluar. Kabarnya, Presiden Xi Jinping sendiri yang memerintahkan untuk membatalkan go public perusahaan itu.

Mungkin Jack Ma dianggap sudah dalam tahap membahayakan. Sebanyak 800 juta orang sudah terikat ke dalam bisnisnya. Apalagi sifatnya sudah monopolistik. Dari hulu ke hilir. Dari muka ke belakang. Dari kanan ke kiri.

Apalagi Jack Ma, mantan guru bahasa Inggris itu, sudah mulai berani mengkritik pemerintah. Terutama mengkritik sistem perbankan, sebagai sistem yang kuno dan kurang fleksibel.

Sejak izin go public tidak keluar, Jack Ma tidak terlihat sama sekali di publik. Dia juga tidak tampil di mana2, termasuk tidak hadir di acara kebanggaannya : kompetisi bisnis di kalangan anak muda seluruh Afrika.

Acara ini disponsori Alibaba Foundation. Semua pengusaha muda se-Afrika boleh ikut. Pemenang pertamanya mendapat hadiah sekitar Rp 5 miliar. Total hadiah USD 1 juta dolar.

Tahun lalu, yang acara finalnya Jack Ma tidak bisa hadir, diikuti 22.000 pengusaha se-Afrika. Tiba2 nama Jack Ma sebagai juri dihapus dari selebaran. Panitia juga diberi tahu kalau Jack tidak bisa hadir karena ada kegiatan lain.

Padahal Jack Ma berjanji akan selalu hadir. Bahkan dia terlihat sangat menikmati acara itu, sesuai dengan jiwanya. Baru sekarang mereka tahu, ternyata ada masalah yang lebih besar yang sedang dihadapi Jack Ma.

Di tahun sebelumnya (2019) jumlah peserta acara itu mencapai 10.000 pengusaha muda. Jack Ma menjadi salah satu juri tingkat final.

Pemenangnya adalah seorang wanita asal Nigeria, yang menamakan usahanya Lifebank, yakni membuat pelayanan pengadaan darah untuk seluruh negara dengan Aplikasi. Lewat aplikasi itu, orang2 yang perlu donasi darah bisa langsung terhubung dengan pendonor atau pusat donor darah.

Pemenang keduanya adalah dari Mesir. Yang membuat perusahaan riset berbasis Aplikasi juga. Dia mengoordinasikan para ilmuwan yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan risetnya.

Sedangkan pemenang ketiganya adalah seorang gadis berusia 25 tahun dari Rwanda. Dia bergerak dalam pelayanan air bersih ke berbagai daerah.

Para finalis yang berjumlah 10 orang, begitu bangganya bisa tampil di depan Jack Ma. Mereka dengan antusias menceritakan bagaimana membangun bisnis sejak nol. Bahkan 3 finalis teratas bisa diskusi satu meja dengan Jack Ma.

Jack Ma pun tampak begitu terharu melihat masa depan anak2 muda di Afrika. Dia bahkan sempat ikut naik panggung, yakni ketika penyanyi rap terkemuka dari Prancis, Yaolow, menghibur malam final itu dengan syair lagu “Saya mau jadi Jack Ma. Kita mau jadi Ma Yun” yang di-rap-kan.

Jack yang semula hanya bergoyang di tempat duduknya di tempat penjurian lalu naik panggung. Dia ikut bergoyang rap di malam final itu.

Baca juga : Lockdown Ketat Ala Tiongkok vs Lockdown Longgar Ala Italia : Ramai2 Menginstall Aplikasi Jian Kang Bao!

Rasanya itulah kebahagiaan terakhir Jack Ma. Dia tampak bahagia sekali.

Setelah itu pandemi Covid-19 melanda dunia. Setelah itu dia terlibat perencanaan besar ekspansi gila2 an. Setelah itu dia pusing akibat izin go public yang tidak bisa keluar. Setelah itu dia pun hilang, atau menghilang sampai artikel ini terbit.

Jack Ma bukan Guo Wen Gui. Dia juga bukan Fan Bingbing. Kita ingin tahu kelak, siapa Jack Ma.





Source link

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Semua tentang Tionghoa

Situs berita informasi seputar Tionghoa di Indonesia.

Copyright © 2020 TIONGHOAPOS.COM

To Top